Welcome to my blog !

Jumat, 07 Desember 2012

PENANGANAN ANAK YANG KESULITAN BELAJAR DI SEKOLAH

oleh: Bibit Dwi Prastyorini


A.    Definisi Kesulitan Belajar
Kesulitan belajar adalah kondisi dimana anak dengan kemampuan intelegensi rata-rata atau di atas rata-rata, namun memiliki ketidakmampuan atau kegagalan dalam belajar yang berkaitan dengan hambatan dalam proses persepsi, konseptualisasi, berbahasa, memori, serta pemusatan perhatian, penguasaan diri, dan fungsi integrasi sensori motorik (Clement, dalam Weiner, 2003). Berdasarkan pandangan Clement tersebut maka pengertian kesulitan belajar adalah kondisi yang merupakan sindrom multidimensional yang bermanifestasi sebagai kesulitan belajar spesifik (spesific learning disabilities), hiperaktivitas dan/atau distraktibilitas dan masalah emosional.
Kelompok anak dengan Learning Dissability (LD) dicirikan dengan adanya gangguan-gangguan tertentu yang menyertainya. Tidak seperti cacat fisik, kesulitan belajar tidak terlihat dengan jelas dan sering disebut ”hidden handicap”. Terkadang kesulitan ini tidak disadari oleh orangtua dan guru, akibatnya anak yang mengalami kesulitan belajar sering diidentifikasi sebagai anak yang underachiever, pemalas, atau aneh. Anak-anak ini mungkin mengalami perasaan frustrasi, marah, depresi, cemas, dan merasa tidak diperlukan (Harwell, 2001).
            Definisi tersebut menunjukan bahwa learning diability tidak digolongkan ke dalam salah satu keluarbiasaan, melainkan merupakan kelompok tersendiri.
Kesulitan belajar lebih didefinisikan sebagai gangguan perseptual, konseptual, memori maupun ekspresif di dalam proses belajar. Gangguan ini dapat terjadi di berbagai tingkatan kecerdasan, namun learning disability lebih terkait dengan tingkat kecerdasan normal atau bahkan di atas normal. Anak-anak yang berkesulitan belajar memiliki ketidakteraturan dalam proses fungsi mental dan fisik yang bisa yang bisa menghambat alur belajar yang normal, menyebabkan keterlambatan dalam kemampuan perseptual motorik tertentu atau kemapuan berbahasa. Umumnya masalah ini tampak ketika anak mulai mempelajari mata-mata pelajaran dasar seperti menulis, membaca, menghitung dan mengeja.
B.      Jenis-jenis Kesulitan Belajar
Dari pengertian kesulitan belajar di atas maka jenis-jenis kesulitan belajar di Sekolah Dasar dapat dikelompokkan kepada murid-murid yang mengalami. Jenis-jenis kesulitan belajar tersebut yaitu:
1.      Kesulitan membaca (disleksia)
Membaca merupakan aktivitas audiovisual untuk memperoleh makna dari symbol berupa huruf atau kata. Aktivitas ini meliputi dua proses, yaitu proses decoding, juga dikenal dengan istilah membaca teknis, dan proses pemahaman. Membaca teknis adalah proses pemahaman atas hubungan antar huruf dan bunyi atau menerjemahkan kata-kata tercetak menjadi bahasa lisan atau sejenisnya.
Berdasarkan hasil penelitian di negara maju, lebih dari 10% murid sekolah mengalami kesulitan membaca. Kesulitan membaca ini menjadi penyebab utama kegagalan anak di sekolah. Hal ini dapat dipahami, kerena membaca merupakan salah satu bidang akademik dasar, selain menulis dan berhitung. Kesulitan membaca juga menyebabkan anak merasa rendah diri, untuk termotivasi belajar, dan sering juga mengakibatkan timbulnya perilaku menyimpang pada anak. Hal ini terjadi karena dalam masyarakat yang semakin maju, kemampuan membaca merupakan kebutuhan, karena sebagian informasi disajikan dalam bentuk tertulis dan hanya dapat diperoleh melalui membaca.
Kesulitan belajar membaca sering disebut disleksia. Kesulitan belajar membaca yang berat disebut aleksia. Kemampuan membaca tidak hanya merupakan dasar untuk menguasai berbagai bidang akademik, tetapi juga untuk meningkatkan keterampilan kerja dan memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat secara bersama. Ada dua jenis pelajaran membaca, yaitu membaca permulaan atau membaca lisan dan membaca pemahaman. Mengingat pentingnya kemampuan membaca bagi kehidupan, kesulitan belajar membaca hendakna ditangani sedini mungkin. Ada dua tipe disleksia, yaitu disleksia auditoris dan disleksia visual.
Anak yang memiliki keterlambatan kemampuan membaca, mengalami kesulitan dalam mengartikan atau mengenali struktur kata-kata (misalnya huruf atau suara yang seharusnya tidak diucapkan, sisipan, penggantian atau kebalikan) atau memahaminya (misalnya, memahami fakta-fakta dasar, gagasan, utama, urutan peristiwa, atau topik sebuah bacaan). Mereka juga mengalami kesulitan lain seperti cepat melupakan apa yang telah dibacanya. Sebagian ahli berargumen bahwa kesulitan mengenali bunyi-bunyi bahasa (fonem) merupakan dasar bagi keterlambatan kemampuan membaca, dimana kemampuan ini penting sekali bagi pemahaman hubungan antara bunyi bahasa dan tulisan yang mewakilinya. Gejala-gejala disleksia visual adalah sebagai berikut:
a.       Tendensi terbalik.
b.      Kesulitan diskriminasi, mengacaukan huruf atau kata yang mirip.
c.       Kesulitan mengikuti dan mengingat urutan visual.
d.      Memori visual terganggu.
e.       Kecepatan persepsi lambat.
f.       Kesulitan analisis dan sintesis visual.
g.      Hasil tes membaca buruk.
h.      Biasanya lebih baik dalam kemampuan aktivitas auditoris.
 Anak yang mengalami disleksia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Tidak lancar dalam membaca,
b.      Sering banyak kesalahan dalam membaca,
c.       Kemampuan memahami isi bacaan sangat rendah,
d.      Sulit membedakan huruf yang mirip.
2.      Kesulitan menulis (disgrafia)
Penelitian dan pengembangan dalam pengajaran menulis sejak dulu memang kurang mendapat perhatian. Hal ini terlihat jarangnya hasil penelitian pembaharuan metodologi pengajaran menulis. Baru dalam dasa warsa terakhir ini, beberapa pakar mulai tertarik pada bidang ini. Beberapa hasil penelitian mulai dipublikasikan, demikian juga muncul beberapa pemikiran inovatif terhadap pengajaran membaca. Berdasarkan hasil penelitian di negara-negara maju, 80% dari populasi murid sekolah menengah tidak dapat menulis dengan baik dan 50% tidak menyukai proses menulis. Di kalangan pendidikan luar biasa, angka-angka ini pasti lebih besar, karena sebagian besar anak luar biasa mengalami kesulitan menulis. Penelitian ini dilakukan di negara maju. Di Indonesia masalahnya mungkin lebih besar, karena proses belajar mengajar di semua jenjang pendidikan tidak menuntut anak untuk banyak menulis.
Tujuan utama pengajaran menulis adalah keterbacaan. Untuk dapat mengkomunikasikan pikiran dalam bentuk tertulis, pertama-tama anak harus dapat menulis dengan mudah dan dapat membaca. Oleh karena itu, pengajaran menulis pada tahap awal difokuskan pada cara memegang alat tulis dengan benar, menulis huruf balok dan huruf bersambung dengan benar, dan menjaga jarak dan proporsi huruf secara benar dan konsisten.
Kesulitan belajar menulis disebut juga disgrafia. Kesulitan belajar menulis yang berat disebut agrafia. Ada tiga jenis pelajaran menulis, yaitu menulis permulaan, mengeja atau dikte, dan menulis ekspresif. Kegunaan kemampuan menulis bagi seorang siswa adalah untuk menyalin, mencatat, dan mengerjakan sebagian besar tugas sekolah. Oleh karena itu, kesulitan belajar menulis hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Ada beberapa jenis kesulitan yang dialami oleh anak berkesulitan menulis, antara lain sebagai berikut:
a.       Terlalu terlambat dalam menulis.
b.    Sarah arah ada penulisan huruf dan angka, misalnya menulis huruf “n” dimulai dari ujung bawah kaki kanan huruf, naik, lengkung ke kiri, ke bawah, baru kembali naik,
c.       Terlalu miring.
d.      Jarak antar huruf tidak konsisten.
e.       Tulisan kotor.
f.       Tidak tepat dalam mengikuti garis horizontal.
g.      Bentuk huruf atau angka tidak terbaca.
h.      Tekanan pensil tidak tepat (terlalu tebal atau tipis).
i.        Ukuran tulisan terlalu besar atau terlalu kecil.
j.        Kentuk terbalik (seperti bercermin).
Kesulitan menulis yang dialami anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya gangguan motorik, gangguan emosi, gangguan persepsi visual, atau gangguan ingatan. Gangguan gerak halus dapat menganggu keterampilan menulis, misalnya seorang anak mungkin mengerti ejaan suatu kata, tetapi ia tidak dapat menulis secara jelas ataun mengikuti kecepatan gurunya, hal ini dapat berakibat pada penguasaan bidang studi akademik lain. 
Anak yang mengalami disgrafia memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  1. Tulisan terlalu jelek atau tidak terbaca.
  2. Sering terlambat dibanding yang lain dalam menyalin tulisan.
  3. Tulisan banyak salah, banyak huruf terbalik dan hilang.
  4. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
  5. Menulis huruf tidak sesuai dengan kaidah bahasa.
3.      Kesulitan berhitung (diskalkulia)
Berhitung adalah salah satu cabang matematika, ilmu hitung adalah suatu bahasa yang digunakan untuk menjelaskan hubungan antara berbagai proyek, kejadian, dan waktu. Ada orang yang beranggapan bahwa berhitung sama dengan matematika. Anggapan semacam ini tidak sepenuhnya keliru karena hamper semua cabang matematika yang menurut Moris Kline (1981) berjumlah delapan puluh cabang besar selalu ada berhitung.
Kesulitan belajar berhitung disebut juga diskalkulia. Kesulitan belajar berhitung yang berat disebut akalkulia. Ada tiga elemen pelajaran berhitung yang harus dikuasai oleh anak. Ketiga elemen tersebut adalah konsep, komputasi, dan pemecahan masalah. Seperti halnya bahasa, berhitung yang merupakan bagian dari matematika adalah sarana sarana berpikir keilmuan. Oleh karena itu, seperti halnya kesulitan belajar bahasa, kesulitan berhitung hendaknya dideteksi dan ditangani sejak dini agar tidak menimbulkan kesulitan bagi anak dalam mempelajari berbagai mata pelajaran yang diajarkan di sekolah.
Kesulitan belajar berhitung merupakan jenis kesulitan belajar terbanyak disamping membaca. Padahal seperti halnya keterampilan membaca, keterampilan menghitung merupakan sarana yang sangat penting untuk menguasai bidang studi lainnya. Ciri-ciri anak yang mengalami diskalkula yaitu:
  1. Sering sulit membedakan tanda-tanda dalam hitungan,
  2. Sering sulit mengoperasikan hitungan/bilangan meskpun sederhana,
  3. Sering salah membilang dengan urut,
  4. Sulit membedakan angka yang mirip, misalnya angka 6 dan 9, 17 dengan 71,
  5. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
C.     Faktor-faktor Penyebab Kesulitan Belajar
Masalah kesulitan belajar ini, tentunya disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk memberikan suatu bantuan kepada anak yang mengalami kesulitan belajar, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu faktor apa yang menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar. Faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu :
1.      Faktor intern (faktor dari dalam diri anak itu sendiri) yang meliputi:
a.       Faktor fisiologi
Faktor fisiologi adalah faktor fisik dari anak itu sendiri. seorang anak yang sedang sakit, tentunya akan mengalami kelemahan secara fisik, sehingga proses menerima pelajaran, memahami pelajaran menjadi tidak sempurna. Selain sakit faktor fisiologis yang perlu kita perhatikan karena dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah cacat tubuh, yang dapat kita bagi lagi menjadi cacat tubuh yang ringan seperti kurang pendengaran, kurang penglihatan, serta gangguan gerak, serta cacat tubuh yang tetap (serius) seperti buta, tuli, bisu, dan lain sebagainya.
b.      Faktor psikologis
Faktor psikologis adalah berbagai hal yang berkenaan dengan berbagai perilaku yang ada dibutuhkan dalam belajar. Sebagaimana kita ketahui bahwa belajar tentunya memerlukan sebuah kesiapan, ketenangan, rasa aman. Selain itu yang juga termasuk dalam faktor psikologis ini adalah inteligensi yang dimiliki oleh anak. Anak yang memiliki IQ ( cerdas (110-140), atau genius (lebih dari 140) memiliki potensi untuk memahami pelajaran dengan cepat. Sedangkan anak-anak yang tergolong sedang (90-110) tentunya tidak terlalu mengalami masalah walaupun juga pencapaiannya tidak terlalu tinggi. Sedangkan anak yang memiliki IQ dibawah 90 atau bahkan dibawah 60 tentunya memiliki potensi mengalami kesulitan dalam masalah belajar. Untuk itu, maka orang tua, serta guru perlu mengetahui tingkat IQ yang dimiliki anak atau anak didiknya. Selain IQ faktor psikologis yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah bakat, minat, motivasi, kondisi kesehatan mental anak.
2.      Faktor ekstern (faktor dari luar anak) meliputi:
a.       Faktor-faktor sosial
Yaitu faktor-faktor seperti cara mendidik anak oleh orang tua mereka di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup tentunya akan berbeda dengan anak-anak yang cukup mendapatkan perhatian, atau anak yang terlalu diberikan perhatian. Selain itu juga bagimana hubungan orang tua dengan anak, apakah harmonis, atau jarang bertemu, atau bahkan terpisah. Hal ini tentunya juga memberikan pengaruh pada kebiasaan belajar anak.
b.      Faktor-faktor non-sosial
Faktor-faktor non-sosial yang dapat menjadi penyebab munculnya masalah kesulitan belajar adalah faktor guru di sekolah, kemudian alat-alat pembelajaran, kondisi tempat belajar, serta kurikulum.
Ada beberapa penyebab kesulitan belajar lain yang terdapat pada literatur dan hasil riset (Harwell, 2001), yaitu :
  1. Faktor keturunan/bawaan.
  2. Gangguan semasa kehamilan, saat melahirkan atau premature.
  3. Kondisi janin yang tidak menerima cukup oksigen atau nutrisi dan atau ibu yang merokok, menggunakan obat-obatan (drugs), atau meminum alkohol selama masa kehamilan.
  4. Trauma pasca kelahiran, seperti demam yang sangat tinggi, trauma kepala, atau pernah tenggelam.
  5. Infeksi telinga yang berulang pada masa bayi dan balita. Anak dengan kesulitan belajar biasanya mempunyai sistem imun yang lemah.
  6. Awal masa kanak-kanak yang sering berhubungan dengan aluminium, arsenik, merkuri/raksa, dan neurotoksin lainnya.
D.    Cara Mengatasi Anak yang Kesulitan Belajar
1.      Kesulitan membaca (Disleksia)
Disleksia merupakan gangguan neourologis yang sifatnya genetis. Jadi kondisi ini menetap. Disleksia tidak bisa diobati tetapi bisa diintervensi sehingga anak bisa mengatasi masalahnya. Contohnya, anak tidak bisa membaca lalu dibacakan.  Bagi orang yang tidak paham anak tersebut bisa dikatakan pemalas, bodoh, keras kepala dan sebagainya.
Cara yang paling sederhana, paling efektif untuk membantu anak-anak penderita disleksia belajar membaca dengan mengajar mereka membaca dengan metode phonic. Idealnya anak-anak akan mempelajari phonic di sekolah bersama guru, dan juga meluangkan waktu untuk berlatih phonic di rumah bersama orang tua mereka. Metode phonic ini telah terbukti berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan anak dalam membaca (Gittelment & Feingold, 1983). Metode phonic ini merupakan metode yang digunakan untuk mengajarkan anak yang mengalami problem dysleksia agar dapat membaca melalui bunyi yang dihasilkan oleh mulut. Metode ini dapat ssudah dikemas dalam bentuk yang beraneka ragam, baik buku, maupun software.
Berikut ini merupakan ide-ide yang dapat membantu anak dengan phonic dan membaca:
  1. Mencoba untuk menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca.
  2. Tunda sesi jika anak terlalu lelah, lapar, atau mudah marah hingga dapat memusatkan perhatian.
  3. Jangan melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan pada saat pertama, mulailah dengan sepuluh atau lima belas menit sehari.
  4. Tentukan tujuan yang dapat dicapai: satu hari sebanyak satu halaman dari buku phonics atau buku bacaan mungkin cukup pada saat pertama.
  5. Bersikap positif dan puji anak ketika anak membaca dengan benar. Ketika anak membuat kesalahan, bersabarlah dan bantu untuk membenarkan kesalahan.
  6. Ketika membaca cerita bersama-sama, pastikan bahwa anak tidak hanya melafalkan kata-kata, tetapi merasakannya juga. Tanyakan pendapatnya tentang cerita atau karakter-karakter dalam cerita tersebut.
  7. Mulai dengan membaca beberapa halaman pertama atau paragraph dari cerita dengan suara keras untuk memancing anak. Kemudian meminta anak membaca terusan ceritanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.
  8. Variasikan aktivitas dengan meluangkan beberapa sesi untuk melakukan permaianan kata-kata sebagai ganti aktivitas membaca, atau meminta anak untuk mengarang sebuah cerita, tulislah cerita tersebut, dan mintalah ia untuk membaca kembali tulisan tersebut.
  9. Berikan hadiah padanya ketika anak melakukan sesuatu dengan sangat baik atau ketika ada perubahan yang nyata pada nilai-nilainya di sekolah. 
Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi anak disleksia antara lain:
  1. Mendemonstrasikan apa yang ingin dikerjakan anak.
  2. Menceritakan kepada anak hal yang sedang dilakukannya.
  3. Mendorong anak bercakap-cakap.
  4. Memperlihatkan kepada anak gambar yang menarik (bukan gambar makhluk bernyawa) sehingga anak mampu mendeksripsikan dan menginterpretasikan.
  5. Membaca dan menceritakan cerita pendek kepada anak.
  6. Meminta atau memberi dukungan kepada anak untuk bercerita di depan kelas tentang situasi menarik yang dialami di rumah atau di tempat lain.
  7. Membuat permainan telepon-teleponan.


2.      Kesulitan menulis (Disgrafia)
Untuk mengatasi problem disgrafia ini, sangatlah baik apabila kita belajar dari sebuah kasus anak yang mengalami disgrafia. Problem disgrafia muncul pada Stephen saat sekolah dasar, ia memiliki nilai yang bagus pada masa-masa awal, akan tetapi kemudian nilainya jatuh dan akhirnya guru Stephen di kelas V memanggilnya, dan juga memanggil orang tuanya. Guru tersebut meminta orang tua Stephen untuk mengajari Stephen mengetik pada mesin ketik yang dapat dibawa kemana-mana (portable). Hasilnya nilai dan prestasi Stephen meningkat secara tajam.
Sebagian ahli merasa bahwa pendekatan yang terbaik untuk disgrafia adalah dengan jalan mengambil jalan pintas atas problem tersebut, yaitu dengan menggunakan teknologi untuk memberikan kesempatan pada anak mengerjakan pekerjaan sekolah tanpa harus bersusah payah menulis dengan tangannya.Ada dua bagian dalam pendekatan ini. Anak-anak menulis karena dua alasan : pertama untuk menangkap informasi yang mereka butuhkan untuk belajar (dengan menulis catatan) dan kedua untuk menunjukkan pengetahuan mereka tentang suatu mata pelajaran (tes-tes menulis). Sebagai ganti menulis dengan tangan, anak-anak dapat:
  1. Meminta fotokopi dari catatan-catatan guru atau meminta ijin untuk mengkopi catatan anak lain yang memiliki tulisan tangan yang bagus, mereka dapat mengandalkan teman tersebut dan mengandalkan buku teks untuk belajar.
  2. Belajar cara mengetik dan menggunakan laptop/note book untuk membuat catatan di rumah dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
  3. Menggunakan alat perekam untuk menangkap informasi saat pelajaran. Sebagai ganti menulis jawaban tes dengan tangan, mereka dapat:
1)      Melakukan tes secara lisan.
2)      Mengerjakan tes dengan pilihan ganda.
3)     Mengerjakan tes-tes yang dibawa pulang (take – home test) atau tes dalam kelas dengan cara menegtik.
4)  Bila strategi-strategi di atas tidak mungkin dilakukan karena beberapa alasan, maka anak-anak penderita dysgraphia harus diijinkan untuk mendapatkan waktu tambahan untuk tes-tes dan ujian tertulis.
  1. Luangkan waktu lebih, dalam tugas menulis
  2. Kalau kesulitan dalam jarak, kita bisa membantu mereka dengan menaruh jari di mulut antara satu kata dengan kata yang lain
Keuntungan dari pendekatan ini adalah bahwa pendekatan ini memberikan perbedaan yang segera tampak pada anak. Dari pada mereka harus bersusah payah mengusai suatu keterampilan yang sangat sulit bagi mereka, dan nantinya mungkin akan jarang dibutuhkan ketika beranjak dewasa, mereka dapat berkonsentrasi untuk mempelajari keterampilan lain, dan dapat menunjukkan apa yang mereka ketahui. Hal ini membuat mereka merasa lebih baik berkenaan dengan sekolah dan diri mereka sendiri. Tidak ada alasan untuk menyangkal kesempatan bagi seorang anak yang cerdas untuk meraih kesuksesan di sekolah. selain itu, karena pendidikan sangatlah penting bagi masa depan anak, maka tidak sepadan resiko membiarkan anak menjadi semakin lama semakin frustasi dan menjadi putus asa karena pekerjaan sekolah.
3.      Kesulitan berhitung (Diskalkulia)
Seorang anak bersama Jesica (sepuluh tahun, duduk di kelas V) didapati mengalami masalah dengan mata pelajaran matematika. Nilai matematika yang Jessica dapat selalu rendah, walaupun pada mata pelajaran lain, nilainya baik. Lalu seorang guru memanggilnya, dan memberinya lembar kertas dan pensil dan memintanya menyelesaikan soal berikut: Jones seorang petani memiliki 25 pohon apel dan tiap pohon menghasilkan 50 kilogram apel pertahun, berapa kilogram apel yang dihaislkan Jones tiap tahun? Ia berusaha keras menemukan jawabannya tetapi tetap tidak bisa. Ketika guru bertanya bagaimana cara menyelesaikan, ia menjawab, ia harus mengalikan 25 dengan 50, akan tetapi ia tidak dapat menghitungnya. Kemudian guru memberinya kalkulator, dan kemudian ia dapat menghitungnya. Inilah gambaran seorang anak yang mengalami problem “dyscalculia”.
Seperti halnya problem kesulitan menulis dan membaca, ada dua pendekatan yang mungkin dapat mengatasi diskalkulia, yaitu dengan menawarkan beberapa bentuk penganganan matematika yang intensif, atau dengan mengambil jalan pintas.
Pendekatan yang pertama, yaitu penanganan matematika yang intensif, dapat dilakukan dengan teknik “individualisasi yang dibantu tim”. Pendekatan ini menggunakan pengajaran secara privat dengan teman sebaya (peer tutoring). Pendekatan ini mendasari tekniknya pada pemahaman bahwa kecepatan belajar seorang anak berbeda-beda, sehingga ada anak yang cepat menangkap, dan ada juga yang lama. Teknik ini mendorong anak yang cepat menangkap materi pelajaran agar mengajarkannya pada temannya yang lain yang mengalami problem diskalkulia tersebut.
Pendekatan yang kedua, yaitu jalan pintas, sebagaimana Jessica diberikan kalkulator untuk menghitung, maka anak dengan problem diskalkulia ini juga dapat diberikan kalkulator untuk menghitung. Cara lain yang dapat menolong mereka dengan cara sebagai berikut:
  1. Gunakan diagram dan gambarkan konsep-konsep matematika
  2. Gunakan kertas grafik
  3. Latihan berulang-ulang.


    DAFTAR PUSTAKA

    Derek Wood.2005.Kiat Mengatasi Gangguan Belajar.Jogjakarta:Kata Hati.
    Febrina Nur.2007.Gangguan Belajar.(Online).(http://www.sukapsikologi.blogspot.com, diakses tanggal 5 Januari 2012)
    Helex Wirawan.2009.Mengatasi Kesulitan Belajar pada Anak.(Online).(http://www.telaga.org, diakses tanggal 5 Januari 2012)
    Munawir Yusuf dkk.2003.Pendidikan Bagi Anak dengan Problema Belajar.Solo:Tiga Serangkai.
     Tarmidi.2008.Kesulitan Belajar (Learning Dissability) dan MAsalah Emosi.(Online).(http://www.tarmidi.wordpress.com, diakses tanggal 5 Januari 2012)

2 komentar: